terimakasih masa remajaku
Aku mungkin terlahir dengan ketidak sempurnaan, tapi
aku mampu tumbuh untuk menyempurnakan hidupku. Masa kecilku mungkin masa kecil
yang kelam yang tidak ingin kuingat lagi, aku selalu dibimbing dengan keras
oleh orang tuaku hingga sekarang aku tumbuh menjadi seseorang yang sangat keras
kepala. Aku merasa bahwa didunia ini aku tidak mendapat secuil yang bernama
kebahagiaan, aku merasa bahwa aku didunia ini sendirian tidak mempunyai orang
yang mampu membuatku bahagia. Kecuali dua orang tuaku dan kedua sahabatku yang
mungkin mampu membuatku tertawa lebar, dan hanya mereka mungkin yang mengerti
aku. Selama ini aku beranggapan bahwa kebahagiaan itu bullshit, aku tidak
percaya itu.
Lambat laun sahabatku menghilang, mungkin mereka
akan meninggalkanku secara perlahan. Aku tidak mengerti dengan semua ini.
Hidupku keras, hidupku penuh tantangan tanpa adanya sedikit kebahagiaan, aku
ingin mendapatkannya tapi aku tidak mengerti caranya. Aku belajar untuk
memotivasi diriku sendiri, membuat diriku kuat, dan mungkin hanya buku diary
ini yang menjadi kawan ketika aku tidak tau harus kemana aku bercerita tentang
pahitnya hidup. Aku mempelajari banyak hal, hingga sekarang aku mengerti
semuanya. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk sejenak, sedikit memberiku rasa
bahagia itu, aku hanya sekedar ingin mengenal bagaimana bahagia itu. Dan dengan
baiknya Tuhan mendengarkan doaku.
Aku bertemu dengan seorang wanita disebuah komunitas
yang kebetulan aku ikuti juga, seorang wanita yang sangat gigih, dan sangat
pekerja keras. Dia tidak pernah mengeluh dengan semua tugas yang diberikan
ketua komunitas kepadanya, sesulit apapun tugas itu dia selalu melaksanakannya
dengan baik. Aku begitu kagum padanya, hingga aku selalu berdoa semoga wanita
ini jawaban atas doaku selama ini. Karena sering berkumpulnya komunitas ini aku
dan dia jadi sering bertemu, dan akhir-akhir ini aku dan dia semakin dekat
karena kami sering bercerita. Pelan-pelan aku membawanya masuk kekehidupanku,
aku menceritakan semua hidupku kepadanya aku juga bercerita bahwa aku tidak
percaya adanya kebahagiaan.
Dia wanita yang sangat sabar untuk menghadapi
sifatku yang keras ini dia juga tidak pernah bosan untuk mengajari hal baru
kepadaku, dia berkata bahwa ‘ kebahagiaan itu ada, dan aku harus percaya
itu. Aku juga membutuhkan orang lain, aku tidak bisa berdiri sendiri ’
dari perkataan wanita itu aku mulai memahami perbait kata yang dia ucapkan,
setelah kupikir-pikir memang benar harusnya aku tidak boleh seperti ini. Dari
sini aku mulai percaya padanya aku mulai menanamkan rasa percayaku padanya,
dengan memberinya sebuah pisau yang bisa dibilang itu benda kehormatan untukku.
Kuberikan itu kepadanya agar dia menjaga baik-baik seperti layaknya sebuah
kepercayaan yang sudah kuberi untuknya.
Setelah mengenal wanita ini hidupku banyak berubah,
aku mulai bisa bersosialiasi dengan banyak orang aku lebih mempunyai teman
banyak. Dan karena mengenal dia aku mengerti bahagia itu seperti apa, setiap
malam aku selalu mendoakan wanita ini agar senantiasa diberi keselamatan dan
kesehatan. Seiring berjalannya waktu aku memiliki perasaan lebih padanya hingga
aku berfikir wanita inilah masa depanku kelak, dialah ibu dari calon
anak-anakku nantinya. Aku tidak ingin pacaran dengannya aku ingin melanjutkan
hubungan ke jenjang yang lebih serius, aku tidak ingin kehilangannya. Hingga
pada suatu waktu kukenalkan dia kepada orang tuaku, dan aku bilang bahwa ‘ dia
calon istri yang baik ’ aku mencintainya.
Aku tidak pernah tau sebesar apa rasa cintanya
padaku, tetapi aku berusaha meyakinkan diriku bahwa dia juga mencintaiku
layaknya aku mencintainya. Hubungan kami sudah seperti orang pacaran tetapi
sebenarnya kami tidak ada apa-apa, aku selalu berusaha untuk menjaganya. Suatu
waktu kami bertengkar hebat, dimana dia benar-benar marah padaku dan banyak
teman komunitas yang berkata bahwa aku terlalu mengekang dia, apa iya aku
mengekangnya? Aku hanya ingin menjaganya, aku hanya ingin yang terbaik
untuknya. Apa caraku salah? Aku harus bagaimana Tuhan? Bantu aku kali ini.
Kujelaskan semua kepadanya, tapi sepertinya dia sama
sekali tidak meresponku. Aku terus berusaha menjelaskan padanya hingga
pelan-pelan dia menjauhiku. Kami tidak seperti dulu. Dia berubah dan aku tidak
tau harus berbuat seperti apa. Aku terpuruk melihat ini semua, mengapa bahagia
itu datangnya cepat sekali? Aku baru merasakannya sebentar, oh Tuhan mengapa
harus seperti ini? Aku tidak mengerti harus bersikap bagaimana lagi, dan pisau
yang telah kuberikan padanya telah ia kembalikan kepadaku. Dan mengapa perasaan
ini datang? Perasaan yang sakit, aku ingin menghantam tembok, aku ingin
menancapkan benda tajam di badanku.
Aku merasakan sakit untuk yang kedua kali. Aku coba
bangkit walau terkadang sulit, aku sangat berterima kasih kepada teman-teman
komunitasku yang membantuku untuk bangkit, mungkin ini akhir dari segalanya.
Aku berusaha untuk tidak memaksakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh
dipaksakan, aku relakan dia pergi. Dan aku hanya mampu berkata ‘ Maaf,
aku salah. Dan terimakasih telah mengajariku banyak hal, terimakasih selama ini
sudah mau berbagi banyak hal denganku ’. Aku menangis. Terimakasih
untuk selama ini, terimakasih sudah memberiku arti kebahagiaan sesungguhnya. Aku
tidak akan mampu melupakanmu karena kamu begitu indah. Maafkan kesalahanku
selama ini, aku hanya ingin membuatmu bahagia aku hanya ingin kita bahagia.
Komentar
Posting Komentar